Work Text:
Pekerjaan Wonwoo hari ini berjalan tidak begitu baik. Banyak hal yang tidak berjalan lancar karena kesalahan dari para bawahannya. Sebagai team leader dia harus menyelesaikan semuanya agar tidak semakin berlarut. Wonwoo pun terpaksa sedikit lembur hingga pada akhirnya bisa selesai walau dengan harus menguras semua energi dan pikiran Wonwoo. Langkah kakinya gontai menuju lift untuk membawa ke apartemen miliknya.
Bahkan untuk berjalan dari lift menuju pintu unitnya seakan begitu berat bagi Wonwoo. Kombinasi angka ditekan dengan sisa tenaganya lalu melangkah tak sabar untuk bertemu kasur kesayangannya. Namun seketika langkahnya terhenti ketika melihat sesosok manusia favoritnya sedang duduk tenang di sofa menonton TV sambil mengunyah pop corn. Lelaki muda itu menoleh dan tersenyum pada Wonwoo.
"Udah pulang, mas?" ujarnya sambil berdiri menyambut Wonwoo yang masih mematung.
"Lee Chan." Wonwoo langsung merengkuh tubuh si lebih muda ke dalam pelukannya, dirangkul erat sampai sedikit terasa sesak.
Sebagai pacar yang pengertian Chan tahu masnya itu sedang tidak baik-baik saja. Jadi dia hanya diam membalas pelukan Wonwoo sambil mengelus punggung lebar berototnya.
"Good job hari ini, mas. Kamu leader yang hebat. Apapun yang sudah terjadi kamu sudah melakukan yang terbaik. Semua akan baik-baik saja."
Mendengar pujian dari Lee Chan malah bikin air mata merembes dari kedua mata sipitnya. Semua unek-uneknya kayak leleh bersama tetesan air bening itu. Elusan di punggung lebarnya bikin perasaan kalutnya jadi hilang perlahan dan bikin tenang. Chan dengan sabar terus bisikin kalimat pujian dan sentuhan-sentuhan lembut biar pacarnya rileks.
Suasana makin romantis pas Chan ngajakin Wonwoo buat makan malam sama masakan buatan dia. Chan udah ijin sama orang tuanya buat nginep di sini nanti. Bikin senyum Wonwoo makin lebar menghiasi wajahnya. Bibir tipisnya sambil ngunyah sambil curhatin masalah di kantor dan sesekali mengumpat nyebut nama-nama rekan kerjanya.
Piring berisi makanan itu sudah kosong. Kedua pemuda itu lanjut sesi pacaran dengan cuci piring bersama. Wonwoo sudah mengajak Chan buat mereka pindah tinggal bareng. Tapi Chan masih menolak, mau nunggu status mereka ganti jadi pacaran menjadi sah menikah. Masih harus nunggu sampai Chan wisuda dan dapat kerjaan dulu. Sementara Wonwoo sudah tidak sabar menjalani hidup berumah tangga sama pacar kecilnya itu.
"Udah beres semua mending sekarang mas mandi dulu. Udah bau banget, tuh."
"Mandi bareng, yuk. Aku kangen kamu pijitin."
Dan berakhir mereka berendam telanjang bersama di bathtub dengan Chan di belakang Wonwoo memijat pundak lebarnya. Wonwoo merem melek ngerasain enak ototnya yang tegang perlahan kembali rileks. Pijetan Chan emang selalu enak. Dia tahu titik-titik yang tepat, dipijat, diurut perlahan sampai rasa pegalnya hilang.
Selain ngilangin capek, pijatan Chan juga bisa bikin Wonwoo gila pas dilakuin di titik yang sakral. Seperti di atas puting ngacengnya misalnya. Wonwoo ngedesah perlahan pas tangan Chan mulai memutar terus melintir putingnya sambil remesin dada berotot Wonwoo yang montok. Kadang Chan bercanda nyuruh Wonwoo pakai beha karena saking montoknya.
Sambil melintirin puting, mulut Chan juga udah sambil jilatin dan gigitin ceruk leher hingga pundak lebar masnya. Bikin Wonwoo ngedongak ngasih akses lebih. Tangan panjangnya ngeremes rambut Chan yang tangannya mulai berbagi tugas. Satu melintirin puting, satunya mulai turun nyusurin perut sixpack Wonwoo dan berakhir di selangkangan panasnya.
"Ahhhh sayaanghhhhh iyaahhhhh…"
Bunyi air berkecipak akibat Chan yang gerakin tangan gesekin selangkangan Wonwoo yang terbelah dua dihiasi itil di tengahnya. Wonwoo punyanya memek. Kaki Wonwoo makin ngangkang lebar dan pinggulnya lebih maju ngasih memeknya sepenuhnya buat diurus sama Chan.
Bibir tipis Wonwoo dilamotin Chan buat ciuman panas. Sementara memeknya sudah dimasuki dua jari Chan yang mengocok lubangnya kesusahan. Punggung Wonwoo nempel di dada Chan. Kerasa kontol ngaceng Chan ngeganjel di belakang bokongnya. Pakai tumit, Wonwoo ngangkat pinggulnya biar naik keluar dari air.
Di permukaan air rendaman, tangan Chan bergerak lihai ngocok cepet biar Wonwoo bisa segera klimaks. Karena Chan bisa ngerasain lubang pacarnya terus ngetat dari tadi nelen jemarinya.
"Wonwoo cantik. Punya Chan. Memek cantik, sayang."
Dipuji gitu bikin Wonwoo makin naik ke atas awan. Dan klimaksnya langsung datang bikin badannya mantul kejang kayak mau kabur dari Chan. Chan ciumin wajah pacarnya yang ngos-ngosan mendapat klimaks pertamanya malam itu.
"Lanjut ke kamar ya, Chan."
Mereka berdua buru-buru menyeka badan pakai handuk sebelum kemudian Wonwoo narik Chan jalan cepet ke kasurnya. Wonwoo langsung lempar badan ke kasur dan buka kedua kakinya ngangkang nyambut Chan.
"Lamotin sampai basah, sayang." Chan menyeringai senang lihat pacarnya udah mode binal gini.
Dia langsung tenggelamin muka nyedot itil pacarnya yang bengkak habis klimaks. Sisa lendirnya masih cukup becek ditambah liur Chan yang langsung ikut banjirin lubangnya. Lidahnya jilatin belahan memek yang alus dan panas sambil sesekali nusuk ke lubang yang kedutan ga sabar. Mulut Chan ngatup buat ngemutin labia minora yang ngelewer, disedot sampai bisa dia ulur. Tidak lupa bibir luar yang tembem juga diemutin kiri kanan sampai kedengaran bunyi slurp dan kecupan basahnya.
"Anghhhh yes darling mmnghhhh iyahhhhh… ."
Badan Wonwoo gelinjang ngerasain memeknya dimakan habis pacarnya. Paha mulusnya diremas dan dicakar sampai ngebekas kukunya Chan. Kepalanya mendongak dengan mata memutar ke belakang sampai putih. Mulut Chan benar-benar hebat ngenakin memeknya sampai basah dan ngilu di semua bagiannya. Tangannya memelintir dadanya sendiri nambah sensasi nikmat tiada tara di klimaks keduanya.
Lidah Chan jilatin belah memek Wonwoo sambil ngelirik pacarnya yang belingsatan ngerasain enak. Chan senyum bangga bisa bikin leader dengan gaji dua digit itu gila di kasur. Jilatannya makin naik nelusurin perut kotak-kotak lalu bermain-main di atas dada montoknya. Ngemutin puting coklatnya, nyiumin dada lebarnya sambil ninggalin beberapa bekas gigitan.
Petualangan bibir Chan berakhir di bibir Wonwoo dalam ciuman basah dan becek dengan tubuh telanjang mereka saling menggeliat menempel tanpa jarak. Lidah ikut bergelut saling membelit dan saling menghisap. Di bawah, pinggul Chan mulai gesekin kontolnya ke belah memek becek Wonwoo yang baru aja selesai kejangnya.
"Aku bakal bikin kamu lupa sama semua masalah kantor kamu, Mas. Kamu cuma akan teriakin nama aku. Cuma aku." Chan menatap lekat setiap sudut wajah tampan dan ayu pacarnya itu.
"Please do me, sayang. Bikin mas terbang enak." mata sayu Wonwoo penuh pasrah dan hasrat memohon pada Chan. Tubuh lebih besar itu siap hancur di bawah si kecil calon sarjana hukum itu.
Kaki panjang Wonwoo diangkat tinggi dan ngangkang. Chan masukin perlahan kontol ngacengnya dari mulai kepala, terus menusuk dalam menggaruk dinding vagina Wonwoo hingga seluruh batang itu tenggelam sempurna. Keduanya mendesah puas atas penyatuan itu. Wonwoo merem rapat hingga matanya juling. Chan mendesah dan tersenyum puas merasakan hangat lubang kekasih yang lebih tua 10 tahun darinya itu.
Chan mulai gerakin pinggulnya perlahan, menusuk dalam hingga ujung kontolnya timbul di perut rata Wonwoo. Langsung diarahkan ke atas mencari titik surga yang sudah dia hapal betul tempatnya. Terbukti pacar gantengnya itu langsung melengkungkan punggung dengan mulut memekik kegirangan.
Gerakan Chan dipercepat di titik yang sama berhadiah pijatan kuat memanjakan batang kerasnya. Masih memegangi kedua kaki Wonwoo, Chan terus semangat menggenjot sampai kasur mereka berderit menabrak dinding. Tubuh berkeringat itu memantul di atas kasur empuk, bayangannya tergambar pada gorden yang menutupi jendela kaca lebar yang menghadap pemandangan kota.
"Ahhh aku sayang kamu mas Won. Ahhh cantikku cintaku ahhhh…."
"ahhh enakkk kontol enaaaakk ahhh ahhh dalem sayang ahhh mentok penuhh uuhhhh hhnghhyaahh…."
Sungguh dua kalimat kontras tapi memiliki satu makna yang sama. Nikmat surgawi yang berusaha dijemput lewat penyatuan khidmat di titik terdalam tubuh mereka. Kalimat kotor dan indah menyatu mengiringi Wonwoo yang kembali tiba untuk ketiga kalinya.
Pijatan kuat dan pantulan keras pinggul putih itu membuat gila Chan yang merasakan remasan luar biasa untuk batangnya. Ia jatuhkan kaki Wonwoo untuk menunduk mengambil bibir pacarnya yang mangap untuk dicium. Sambil pinggulnya masih menggeliat merojokkan batangnya menunggangi klimaks pacarnya sendiri.
Wonwoo yang belum sepenuhnya turun kembali dibawa naik lewat garukan kontol Chan yang terus tak lelah merangsek ke dalam lubangnya. Pinggulnya mengulen memutar batang kontolnya menggaruk seluruh sudut dinding memek Wonwoo. Itil Wonwoo yang kejepit perut Chan jadi ikut terstimulasi bikin makin gila rasanya. Batang daging itu sudah bengkak dan kedutan hampir buncat terjepit lubangnya. Chan menggenjot tanpa lelah, mata saling mengunci dengan milik Wonwoo.
Melihat wajah tampan pacar kecilnya yang tengah menggagahi tubuhnya bikin memek Wonwoo kedutan makin kencang. Chan, yang dulu pertama kali kenal masih sebagai maba kini telah menjadi pria yang mampu mengobrak abrik hidup hingga memek Wonwoo. Membuat dirinya dengan suka rela menyerahkan seluruh raga, jiwa, hingga masa depan untuk dihabiskan bersama pria kecintaannya itu. Chan pria yang mengagumkan.
Lamunan sejenak Wonwoo harus buyar ketika rojokan Chan sudah pada kecepatan penuh disertai hisapan kuat di bawah telinganya yang juga jadi titik sensitif baginya. Putih itu kembali dekat. Kini dengan lubang penuh dengan kontol bengkak yang juga siap meledak. Wonwoo mendekap tubuh pacarnya, mengalungkan kedua kaki mengunci lelakinya.
"Chanahhh sayanghhh ahhhh lee chanhhh ahhh leeeehhh chaaannhh ahhh ahhh iyaahhhh…."
Sejenak, Wonwoo seperti hilang kesadaran. Pandangannya full putih, kuping mendengung dan tubuhnya seperti ringan melayang. Tak mampu menyaksikan wajah puas Chan yang juga meneriakan namanya sambil menyemburkan cairan putih kental memenuhi memeknya. Tubuh basah keringat itu menempel sedekat kelamin mereka menyatu. Chan ambruk menimpa Wonwoo yang matanya masih memutar ke belakang sementara memeknya muncrat cairan bening yang banjir seperti ngompol.
Chan memenuhi janjinya, membuat Wonwoo terbang tinggi dan hanya bisa meneriakkan namanya. Hanya dia yang bisa membuat lelaki matang itu bertekuk lutut dan memohon untuk dihancurkan. Chan yang masih harus berjibaku dengan semester akhir, bisa membuat seorang Wonwoo yang memiliki segalanya menjadi bodoh dan gila lewat genjotan tubuhnya. Chan bangga pada dirinya.
"Kamu yakin mau lagi, mas? Nanti capek." tanya Chan lembut pada Wonwoo yang sudah menungging mengemut kontolnya.
Setelah klimaks hebat tadi Chan pikir tugasnya sudah selesai. Tapi sepertinya memang memek Wonwoo itu spek lonte. Main sekali saja ga akan cukup.
"Bikin aku susah jalan biar besok bisa minta cuti. Ya sayang, ya?"
Wonwoo kembali masukin kontol Chan ke dalam mulutnya. Dikulum disedot buat bikin batang itu tegang kembali. Mulut Wonwoo memang jago banget nyepongin Chan. Dulu pernah sampai bisa bikin Chan nyembur peju deres padahal dia lagi zoom class. Dan itu juga yang bikin Chan yakin buat macarin Wonwoo saat itu juga.
Wonwoo kembali telentang dengan sedikit miring menghadap Chan. Posisi mereka berbeda kali ini, bukan lagi misionaris. Sebelah kaki Wonwoo diangkat, Chan ngangkangin sebelah paha Wonwoo. Kaki mereka saling menggunting dengan Chan berlutut dan mulai masukin lagi kontolnya. Posisi The Pretzel. Posisi begini bikin kontol Chan masuk dalam sekaligus ngenakin ujung memek Wonwoo yang kena gesekan pahanya.
Kontol Chan menjangkau sudut lain di dalam rongga vagina Wonwoo. Dalamnya makin bergerindil tapi juga lembut dan hangat. Saraf yang terkena gesekan kontol membuat Wonwoo kembali meracau tak jelas. Satu tangannya digenggam Chan yang sudah menggenjot tidak santai. Kasur kembali bergoyang mengikuti irama genjotan Chan yang menusuk sangat dalam.
Mereka tak lagi menye-menye soal speed. Chan langsung genjot tanpa ampun sesuai permintaan Wonwoo yang pengen ga bisa jalan. Kontolnya masuk dalam, dan itil Wonwoo keenakan kena gesek paha dalam dan jembut Chan. Sementara bola zakar Chan ngegaruk geli paha Wonwoo di bawah sana.
"FUCK CHAN!! Ahhhh iyahhh dalem banget gatell memekku gatelll ahhhhh garukin iyaahhhh…."
Chan sambil meluk kaki Wonwoo juga bisa sambil mainin pentil cowoknya yang dia anggurin dari tadi. Semua tubuhnya distimulasi bikin Wonwoo ngerasa gila. Mulutnya tak malu terus meneriakkan nama Chan disertai kata-kata kotor dan lenguhan erotisnya. Aura Wonwoo yang cukup disegani di kantor, tidak berarti apa-apa di bawah kungkungan Lee Chan.
"Memek enak punyakuhh ahhh buatku ya sayang ahhh hahhh hahhh… ."
"Punya kamuhh punya Lee Chan. Memek Wonwoo punya Lee Chan. Ahhh sayang ahhh yeesss iyaaahh ahhh ahhhhhh… ."
Memek Wonwoo kembali banjir dengan peju kental Chan yang meluber di atas paha putihnya. Memeknya merah bengkak dihajar tanpa istirahat dalam permainan liar mereka sepanjang malam itu. Berbagai posisi mereka praktekan tanpa lelah hingga kaki dan tubuh mereka mati rasa di ronde ke empat.
Di ronde terakhir itu Wonwoo sudah tengkurap pasrah dengan hanya pantatnya diangkat setinggi pinggul Chan yang berlutut di belakangnya. Leapfrog position. Kepala Wonwoo tergeletak lemas memeluk bantal, mulutnya ngowoh ngiler basahin bantalnya nyampur dengan keringatnya sendiri. Ada juga batang akrilik seukuran jempol disumpal bersama dengan kontol Chan ikut menuhin lubang memek Wonwoo.
Tadinya Wonwoo minta dildo mini itu dimasukan ke analnya. Tapi Chan terlalu kasihan pada kekasihnya. Jadilah sekarang memeknya diisi batang Chan juga dildo keras. Bentuknya yang bergelombang ikut ngenakin kontol Chan yang juga kegesek pas ngerojok dalem memek Wonwoo.
Mengejar klimaks terakhir tubuh Chan meluk nempel Wonwoo dari belakang sambil tangannya menelusup buat remesin pentil perih Wonwoo. Si lebih tua sudah pasrah karena yang dia rasakan sekarang cuma ngilu dan enak. Karena dari sudut ini bikin dildo yang posisinya di depan ikut neken ke titik tujuan Chan.
Lubang memek makin penuh dan tambahan friksi juga stimulasi bikin Wonwoo klimaks tanpa bisa menyemburkan cairan apapun lagi. Hanya peju Chan yang masih sanggup nyembur meluber basahin paha Wonwoo yang tergeletak pingsan setelah semua ronde yang mereka jalankan.
Jam di nakas Wonwoo menunjukkan angka jam 3 pagi. Tubuh telanjang Wonwoo meringkuk lelah di dalam selimut. Banyak bercak merah di sekujur badan lebar dan kekar itu, hasil karya Chan tentunya. Sprei dan selimut sudah diganti baru. Chan menyusul memeluk Wonwoo dari belakang untuk menuju ke alam mimpi. Baru juga ingin memejamkan mata, Chan terusik dengan gerakan bokong Wonwoo pada kontolnya.
"Sayang, udah ya. Udah banyak banget tadi. Aku juga capek, Mas."
"Tegangin, terus masukin di dalem sampai pagi. Aku mau dipenuhin terus sama kontol kamu, Chan." wajah memelas Wonwoo itu kelemahan bagi Chan.
Dan malam panjang itu diakhiri dengan keduanya menjemput mimpi dengan kontol Chan tertanam hangat di lubang Wonwoo. Tangan lebih kecil Chan mendekap tubuh pacar besarnya hangat dan dengkuran yang menjadi irama pengiring tidur mereka. Sungguh kegiatan bercinta yang panjang, nikmat dan memuaskan.

seasofstar Thu 20 Nov 2025 03:35PM UTC
Comment Actions
ruang_cloud Thu 20 Nov 2025 08:23PM UTC
Comment Actions